
![]() |
Samuel Mulia
Di sebuah kamar hotel pada akhir pekan, saya dengan dua teman dekat menghabiskan akhir pekan sambil leyeh-leyeh di tempat tidur. Tidak melakukan aktivitas berarti meski kami sedang di Pulau Dewata, tempat liburan yang jarang membuat saya bisa melakukan rehat dengan benar. Padahal, ke Pulau Dewata itu tujuannya hanya satu. Yaaa… mau istirahat.
Istirahat dari hiruk-pikuk Jakarta dan pekerjaan saya. Ternyata di tempat istirahat itu saya malah lebih hiruk-pikuk. Bahkan, karena saking hiruk-pikuknya, selalu terlambat tiba di bandara.
Waktu kami sedang leyeh-leyeh, teman saya yang kebetulan ahli dalam soal public speaking berbicara mengenai pengalamannya. Kemudian saya tak membuang kesempatan untuk belajar dari ahlinya. Orang lain harus membayar mahal, saya malah bisa gratis. Wah … kalau sudah begini, hidup itu tak hanya makin hidup, tetapi begitu adilnya.
Saya menanyakan bagaimana agar saya bisa seperti dia. Kemudian dia menasihati begini, ”Lo tu pinter.... Tetapi, lo itu kalau bicara kecepetan. Lo tu harus bisa menghormati yang namanya pause. Orang jadi enggak ngerti apa yang ingin lo sampaikan karena speed-nya terlalu tinggi.”
Saya kaget setengah mati. Bukan karena komentarnya yang mengatakan saya berbicara terlalu cepat karena semua orang tahu soal itu, tetapi pada kalimatnya yang membukakan mata dan hati saya bahwa saya ini tak pernah menghormati momen bernama pause. Berhenti sejenak.
Istirahat ”grak”!
Dua hari sebelum tenggat tulisan ini tiba, teman saya menelepon untuk berbincang-bincang. Ia mau curhat dengan saya. Saat saya menjawab pertanyaannya, ia mengingatkan saya untuk tidak berbicara terlalu cepat. ”Mas, aku jadi enggak bisa ngikutin. Pelan dikit napa?” kata dia.
Setelah dua kali peringatan itu datang, saya pikir sudah waktunya duduk tenang dan mengevaluasi apakah saya benar menghormati masa istirahat yang diberikan Tuhan kepada saya. Tidak hanya untuk merenungkan, mengevaluasi apa yang sudah dan yang akan saya kerjakan, tetapi apakah saya juga mengambil masa berhenti sejenak itu untuk benar-benar mengistirahatkan tubuh saya? Seorang pembaca setia kolom ini yang membaca aktivitas saya yang hiruk-pikuk itu menasihati, saya harus lebih berhati-hati, jangan sampai terlalu lelah. ”Istirahat itu penting!”
Saya merasa saya begitu dianugerahi Tuhan memiliki pekerjaan sehingga hidup saya menjadi semarak, tak merasa menjadi penganggur. Bisa ke kanan dan ke kiri. Bisa berada di dua kota dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Saya bisa punya teman sejuta banyaknya. Hari Senin makan malam dengan si A, malam Rabu ngupi-ngupi dengan si B, bahkan setelah ngupi dilanjutkan dengan nonton bersama si K. Itu sebabnya mengapa saya merasa istirahat lebih sering saya korbankan untuk tidak dijalankan.
Setelah menonton, kalau the night is still young, saya tak keberatan minum-minum di sebuah lounge. Maka, dengan aktivitas semacam itu, saya tiba di rumah pukul dua pagi. Sementara empat jam setelah itu, saya harus berada di lapangan terbang. Tiba di tempat tujuan pun saya berencana untuk ke sana dan kemari. Dan, kalimat the night is young tentunya masih saja berlaku.
”Alarm clock”
Semua kegiatan di atas belum termasuk menghadiri undangan perkawinan, mendengarkan teman menangis karena perkawinannya seperti kain tambal sulam, memenuhi tugas pelayanan di beberapa rumah ibadah, dan menghadiri acara peragaan busana yang di Jakarta sehari bisa terjadi tiga kali.
Semuanya saya kerjakan karena ini anugerah dari Sang Pencipta. Dengan alasan itu saya membabi buta. Seharusnya saya juga tidak boleh lupa, Sang Pencipta juga memberikan alarm clock dalam wujud tubuh saya yang sudah pegal linu, kaki yang nyaris gempor, tenggorokan yang sakit kalau digunakan menelan, sampai kepala yang cenut-cenut, dan kepala yang sudah mulai berpikir untuk menggunakan obat, cairan penguat tubuh dari luar.
Saya melakukan itu semua supaya saya tak menyia-nyiakan kesempatan. Supaya makin tambah kaya. Saya berpikir order berdatangan, gila saja kalau semua itu harus ditolak hanya untuk penghormatan sebuah kata bernama pause. Jangan pernah membuang kesempatan, bukan? Karena katanya kesempatan kedua belum tentu datang dua kali.
Lama-kelamaan alarm clock yang diberikan Sang Pencipta tak berbunyi lagi dan saya merelakan diri untuk marah-marah, pusing karena begitu banyak pekerjaan harus diselesaikan, kemudian marah kepada orang lain yang tidak sepantasnya menerima kemarahan itu. Akhirnya, mungkin saya juga rela tepar di ranjang rumah sakit atau di ranjang rumah sendiri hanya untuk mengaminkan bahwa kesempatan kedua belum tentu datang lagi.
Kalau saya memiliki keluarga, mungkin saya sudah lama menyia-nyiakan waktu untuk berkumpul dengan mereka. Mungkin saya bisa jadi lupa berapa jumlah anak yang saya punya karena saya tak pernah beristirahat dari menyetubuhi perempuan di mana-mana. Saya bahkan mungkin tak jeli bahwa semua orang sudah membicarakan istri saya yang disimpan pejabat ini atau bankir itu karena saya sibuk masuk keluar rumah ibadah untuk menyuarakan Tuhan itu baik.
Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup
Kilas Parodi
Beristirahatlah…
1. Dari membicarakan kejelekan orang dan menggosip. Mulut Anda juga perlu istirahat. Mengunyah sejak kecil dan masih ditambah sebagai alat mengumpat orang. C spasi D. Capcai Deh!
2. Dari menjerat orang apa pun pancing yang Anda gunakan untuk menjerat
3. Dari melakukan berbuat tidak baik. Dan itu tak berarti setelah istirahat Anda melakukan lagi. Saya pikir Anda mengerti apa yang saya maksud dengan kata istirahat di sini.
4. Dari mengatakan kita harus bekerja keras, hidup tambah susah, dan semua untuk anak-anak. Bekerjalah secara efektif, efisien, dan sesuai kemampuan.
5. Dari mengatur jadwal kerja yang tidak benar. Manajemen waktu itu penting!
6. Dari mengundang teman-teman Anda datang ke rumah. Kalau Anda kesepian bukan ramainya teman-teman Anda yang akan menghilangkannya. Mungkin sejenak bisa jadi. Setelah mereka pulang, kesepian datang lagi. Kalau Anda memiliki waktu beristirahat dari mereka, Anda akan menghadapi kesepian itu sendiri. Problem itu harus dihadapi. Orang pesimis melihat problem sebagai halangan, orang optimis melihat problem sebagai peluang. Bagaimana Anda bisa melihat peluang kalau Anda tak pernah beristirahat?
7. Dari menjadwalkan akhir pekan dan masa liburan untuk bekerja. Tuhan memberi waktu untuk bekerja dan juga untuk beristirahat. Manfaatkan kedua-duanya. Tuhan lebih tahu mengapa Ia menciptakan keduanya. Kok Anda mau memorakporandakan.
8. Dari berpikir bahwa badan Anda, kaki Anda, perut Anda, paru-paru Anda tak perlu beristirahat. Bayangkan, kalau Anda yang menjadi paru-paru, sudah disuruh menyaring kotoran dari hasil pernapasan, masih dihajar dengan rokok. Demikian pula dengan pola makan Anda yang membuat hasil laboratorium Anda seperti rapor terbakar. Dan itu, Anda lakukan bertahun lamanya tanpa merasa bersalah untuk tidak istirahat. (Samuel Mulia)