Menhut: Lima Harimau dari Aceh Tidak Akan Dikembalikan
Senin, 7 Juli 2008 | 19:26 WIB

 

Laporan Wartawan Kompas, Helena Fransisca

BANDAR LAMPUNG, SENIN - Menteri Kehutanan MS Kaban menegaskan lima harimau sumatera atau Panthera tigris sumatrae yang dipindahkan dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) ke Lampung 27 Juni 2008 tidak akan dikembalikan. Sebab, menurutnya habitat harimau Sumatera di Aceh sudah sangat rusak sehingga tidak layak untuk pelestarian harimau.

Demikian penegasan tersebut disampaikan Menteri Kehutanan MS Kaban dalam kunjungan kerja ke Bandar Lampung untuk meresmikan pos keamanan hutan di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Wan Abdul Rachman di Gunung Betung, Bandar Lampung, Senin (7/7). Hal tersebut menanggapi permintaan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Irwandi Yusuf supaya kelima harimau sumatera tersbeut dikembalikan ke NAD.

Dalam kunjungan kerja tersebut Menteri Kehutanan MS Kaban bahkan menegaskan, apabila Gubernur NAD bersikeras supaya kelima ekor harimau itu dikembalikan, menteri mempersilakan gubernur untuk mengambil sendiri kelima ekor harimau tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Hutan dan Kelestarian Alam (PHKA) Departemen Kehutanan Daruri mengatakan, kelima ekor harimau tersebut sudah ditangkap oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NAD sejak delapan bulan yang lalu. Selama delapan bulan dalam pengawasan, BKSDA sama sekali tidak memiliki anggaran untuk pakan harimau-harimau tersebut.

"Justru kami mendapat bantuan pembiayaan pakan dari LSM, bukan dari anggaran kami sendiri," lanjut Daruri.

Pemindahan kelima ekor harimau ke Tampang Belimbing, wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Lampung Barat, lanjut Daruri, sudah melalui survei. Di kawasan tersebut, habitat harimau masih terpelihara dan alami. Sumber pakan harimau seperti rusa samber juga masih banyak.

Sedangkan habitat harimau di Aceh terpantau sudah sangat rusak. Rusaknya habitat harimau di hutan tropis Aceh terpantau dari tingginya konflik manusia-harimau di Aceh dalam delapan bulan terakhir.

Direktorat PHKA Departemen Kehutanan mencatat dalam delapan bulan terakhir konflik manusiaharimau di kawasan tersebut sudah terjadi sebanyak 10 kali dengan melibatkan 10 ekor harimau. Tiga ekor di antaranya terpaksa dibun uh untuk menyelesaikan konflik.  

Kita memang sempat diprotes oleh luar negeri yang menyatakan kita tidak mampu memelihara harimau. Namun, pemindahan ke lokasi yang masih banyak sumber pakan dan habitat yang masih alami bisa dikatakan pemindahan tersebut sudah tepat, ujar Darori.

 

 


HLN
Share on Facebook
Nilai 6 A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Ashtaroth @ Selasa, 8 Juli 2008 | 20:15 WIB
Duh itu wilayah pelestarian harimau atau perkebunan sih, konflik manusia-macan bisa dipastikan karena manusianya sudah merambah daerah habitat harimau, makanya pemerintah tertibin dong pembangunan yang ada.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
43