JAKARTA, SELASA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kebijakan politik luar negeri tetap bebas aktif tetapi bila ada benturan dengan kepentingan internasional, maka akan diutamakan kepentingan nasional.
Hal itu disampaikan Presiden SBY dalam pidatonya dalam Foreign Policy Breakfast ke-46 untuk memperingati Ulang Tahun Departemen Luar Negeri RI ke-63 di Gedung Pancasila, Selasa (19/8).
"Bila ada konflik dengan negara lain, maka pilihan pertama adalah diplomasi. Menggunakan instrumen militer seperti perang itu pilihan terakhir dengan pertimbangan untuk mempertahankan kedaulatan pemerintah," ujar Presiden.
Ia mencontohkan dalam kasus Ambalat dengan Malaysia, saat itu kalau bangsa ini ingin perang, kita bisa memilih perang. "Tapi apa itu cocok dengan imbangan daya tempur, kekuatan militer, dan sebagainya. Kalau dari sisi emosional, kita bisa saja perang, tapi dari sisi rasional apa sudah sesuai," tambahnya.
Presiden juga sempat menceritakan ketika ia memimpin kapal perang hingga ke perbatasan Ambalat dalam pidatonya. "Saat itu ibaratnya saya nyemplung ke depan, itu sudah wilayah Malaysia. Kalau mau perang, ya kita perang, tapi kan kita juga harus pertanggungjawabkan pada bangsa dan masa depan negara nantinya," ujarnya.
Ia juga menjelaskan ke depan Indonesia harus menjadi bagian untuk membangun hubungan bilateral, regional maupun multilateral dengan negara-negara lain sebagai bagian dari politik bebas aktif.