Dari Gorontalo Kejar Cita-cita Masuk UI
Ais Rohim, salah satu anak jalanan yang diterima di jurusan Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia melalui jalur SNMPTN. Ais yang nekat datang ke Jakarta dari Gorontalo menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.
Kamis, 21 Agustus 2008 | 06:07 WIB

DEPOK, RABU — Berkuliah di Jakarta adalah cita-cita Ais Rohim, salah satu dari dua anak jalanan yang diterima di Universitas Indonesia, sebelum lulus dari SMA Negeri 1 Limboto di Gorontalo.

Universitas Indonesia dan Bina Sarana Informatika (BSI) adalah tujuannya. Menurut pemikirannya dulu ketika SMA, masuk UI tak susah. Nama UI banyak disebut-sebut oleh teman sekolah dan guru mengajinya di Desa Isimu Utara, Gorontalo.

Setelah lulus, Ais mengaku agak mendesak orangtuanya agar diizinkan berangkat ke Jakarta. Terang saja orangtuanya menolak karena mereka hanyalah petani dan tidak memiliki biaya yang cukup. Ais juga tak mempunyai saudara atau teman di Jakarta. Namun, hanya tekad keras yang mengantarkannya ke Jakarta.

Akhirnya bermodalkan ngutang dari kerabat dan teman, Ais memulai petualangannya menuju Jakarta dengan modal nekat. Ketika menunggu pesawat tujuan Jakarta di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Ais mengaku bertemu seorang pria yang bernama Safiudin.

"Dia bilang, kamu mau ke mana? Ke tempat siapa? Saya bilang ke Jakarta dan tujuan saya kuliah tapi enggak tahu mau ke mana," ujar Ais polos.

Dari Safiudinlah Ais mengetahui tempat sekolah gratis di Depok. Safiudin lantas memberikan petunjuk untuk menghubungi rekannya sehingga Ais dapat tiba di Depok dan bergabung bersama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Terminal Depok.

Ais mengaku sempat takut di Bandara Sam Ratulangi, tapi setibanya di Jakarta perasaan takut dan curiganya lenyap meskipun dirinya sudah diperingatkan agar berhati-hati. Ais mengaku tidak memiliki gambaran apa pun tentang Jakarta.

Di PKBM, Ais yang tidak mau merepotkan orang lain ini mengikuti kegiatan belajar-mengajar selama satu tahun sambil menjadi pedagang asongan di terminal dan beberapa stasiun di Depok. Di PKBM pula, Ais akhirnya bertemu dengan beberapa mahasiswa FE UI yang menjadi tenaga pengajar sukarela di sekolah gratis ini.

Melalui merekalah, potensi akademis Ais, Ayatulloh, dan Syakhuroji tercium. Mereka akhirnya dipersiapkan secara khusus melalui salah satu bimbingan belajar selama enam bulan untuk mengikuti SNMPTN.  "Ya, usaha saya juga enggak akan berhasil tanpa bantuan dari orang lain, termasuk kakak-kakak dari FE itu," ujar putra ketiga dari empat bersaudara ini.

Ais dan Ayatulloh kemudian lulus di pilihan kedua mereka di jurusan Sastra Jawa, sementara Syakhuroji belum beruntung. Ais mengaku puas setelah lulus di pilihan keduanya ini. Namun, tidak tertutup kemungkinan dirinya akan kembali mencoba mengejar impiannya lulus di pilihan pertama, yakni jurusan manajemen. "Pendidikan bagi saya sangat penting," kata Ais yang bercita-cita membuka usaha pulsa untuk membiayai kuliah dan kesehariannya nanti.


LIN
Share on Facebook
Nilai 6.33 A A A
Ada 7 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Muhdy @ Jumat, 19 September 2008 | 22:29 WIB
saya bangga mempunyai kakak kelas sepeti k'Ais. mau terus pantang mundur, buktikan bahwa untuk menjadi berhasil tidak semuax dengan kemampuan ekonomi yang mapan. tekadmu akan menjadi semangat dan cambuk bagi kami.
dwi @ Jumat, 29 Agustus 2008 | 18:28 WIB
Aisssssssssss majuuuuuuuuu terusssss semangatttttttt okeeeeeeeeee ais smoga gk lupa ma dwi ya
Azis @ Sabtu, 23 Agustus 2008 | 14:32 WIB
Hebat! Generasi muda yang cerdas, tangguh dan pantang menyerah! Maju terus untuk Indonesia.
fery.liuw @ Sabtu, 23 Agustus 2008 | 10:43 WIB
Dashyat. Maju terus dek. Cita-cita pasti tercapai.Tuhan akan akan selalu membuka jalan. Sukses yaaaah.
woro @ Jumat, 22 Agustus 2008 | 07:54 WIB
Two tumbs up... saluuut banget sukses yaaaa
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
12