Bagian 10
Good Cop, Bad Cop and Ugly Cop
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)
Senin, 8 September 2008 | 00:33 WIB

KALAU Anda nonton film-film Hollywood yang bertemakan action, hampir bisa dipastikan Anda akan selalu mendapatkan karakter good cop dan bad cop.

Orang-orang Hollywood memang paling suka mengkontraskan polisi yang baik dengan polisi yang jelek.

Polisi baik digambarkan selalu mematuhi aturan yang ada, jujur, dedikatif, dan bersikap profesional. Play by the book istilahnya.

Sementara, polisi jelek digambarkan suka menangkap orang tanpa alasan yang jelas atau suka menyiksa tahanan yang sedang diperiksa. Polisi jelek juga sering merasa sok berkuasa mentang-mentang dia punya power.

Tapi, teman-teman saya yang pernah ikut pelatihan di FBI Academy di Amerika bilang bahwa di sana ada istilah ugly cop juga.

bersambung...

---------------------------------------
Bahasan lengkap artikel ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "New Wave Marketing, The World Is Still Round, The Market is Already Flat." Anda bisa memesan buku tersebut di GramediaShop.com atau hubungi Direct Selling Gramedia Pustaka Utama (
gpudm@gramedia.com, telepon: 021-53677834 ext. 3252 & 3253).

Hermawan Kartajaya
Share on Facebook
Nilai 5.08 A A A
Ada 6 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
daniel @ Sabtu, 20 September 2008 | 08:48 WIB
Sangat setuju, akhirnya memang yang fair yang akan menang...Pak Nachtzehrer sejauh saya ikut Markplus sejak tahun 2000, saya yakin Pak Hermawan pasti Survive.. Tidak perlu kuatir ya..
Roy @ Jumat, 19 September 2008 | 19:36 WIB
Tulisan yang bagus pasti mengundang pro dan kontra tentunya. Justru dengan adanya horizontal technology, with Web 2.0 as a media (social networking), customer atau pembaca seperti kita bisa secara langsung co-creation dengan para pencipta ide, company or Pak Hermawan as a writer on this article. Kalau dilihat dari titik tekan nya di artikel Pak Hermawan ini, sebenarnya bukan ke arah teknologi internet nya. Tetapi lebih ke arah good, bad and ugly competitors.
Nachtzehrer @ Selasa, 16 September 2008 | 02:41 WIB
Percayalah, di era New Wave Marketing ini, dengan semakin transparan dan horisontalnya lapangan permainan serta semakin pintarnya pelanggan, hanya mereka yang bersaing dengan fair-lah yang akan survive. ---> suatu saat, dengan semakin pintarnya pembaca, semoga anda tetap bisa survive ya
ganteng2 @ Jumat, 12 September 2008 | 06:54 WIB
scammer itu bukan ugly competitor. scammer itu bisa disetarakan dengan maling, rampok atau copet. mereka menipu tanpa niat berbisnis... klo masih ada niat bisnisnya boleh laah disebut competitor. di artikel ini gak ada yang baru. klo hermawan kertajaya tulisannya hanya menarik untuk para freshgrad.. lama-lama ditinggalin dong...
Agus @ Kamis, 11 September 2008 | 21:49 WIB
situs gadungan klikbca pada tahun 2001 itu bukan tindak kejahatan yang disengaja, lalu dimanfaatkan untuk diambil uangnya oleh hacker (inisial S). tp hanya untuk mengingatkan pihak bca bahwa meskipun mereka menggunakan teknologi pengamanan yang paling mutakhir tetap saja bisa bobol dengan sedikit permainan typo. data2 yang terekam langsung diserahkan ke pihak bca, beserta domain2 palsu yang dibuatnya, tanpa dimanfaatkan utk kepentingan pribadi hacker tsb. salam kenal, sukses untuk marketingnya..
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
299