Bagian 16
The Never-Ending Cola War: Coke vs Pepsi
Pepsi vs Coke
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)
Minggu, 14 September 2008 | 00:10 WIB

PERANG antara Coca-Cola (Coke) dan Pepsi memang merupakan salah satu perang klasik dalam dunia pemasaran. Kedua merek ini di zaman Legacy Marketing dulu saling menyerang lewat iklan.

Salah satu iklan Pepsi pada era 1980-an ada yang berjudul “Earth: Sometime in the Future”. Digambarkan seolah-olah kondisi bumi di masa depan. Ada seorang guru yang membawa murid-muridnya berjalan-jalan ke sebuah situs arkeologi. Sambil berjalan-jalan, murid-murid tersebut minum Pepsi. Di sana mereka menemukan berbagai benda yang merupakan artifak dari masa lalu. Benda pertama adalah bola bisbol. Yang kedua adalah gitar.

Nah, benda ketiga yang ditemukan tidak jelas bentuknya karena sudah tertutup debu dan tanah. Sang guru lalu membersihkan benda tersebut, dan akhirnya benda tersebut menampakkan wujudnya yang asli. Murid-muridnya bertanya, benda apa itu? Dijawab oleh sang guru, “I have no idea.”Anda tahu benda apa itu? Ternyata itu adalah sebuah botol Coke! Iklan tersebut kemudian diakhiri dengan tulisan “Pepsi: The Choice of a New Generation.”

bersambung...

---------------------------------------
Bahasan lengkap artikel ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "New Wave Marketing, The World Is Still Round, The Market is Already Flat." Anda bisa memesan buku tersebut di GramediaShop.com atau hubungi Direct Selling Gramedia Pustaka Utama (
gpudm@gramedia.com, telepon: 021-53677834 ext. 3252 & 3253).

Hermawan Kartajaya
Share on Facebook
Nilai 4.65 A A A
Ada 18 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
reta @ Rabu, 15 Oktober 2008 | 12:16 WIB
Kenapa Indonesia tidak buat Cola sendiri aja, kan tak perlu import barang, jadi bisa lebih berhemat, t
Hany @ Sabtu, 20 September 2008 | 03:43 WIB
Pengalaman saya ketika makan difast food diAmerika, mereka bertanya minumnya apa
dede @ Kamis, 18 September 2008 | 13:29 WIB
artikel menarik, meski ga ngerti2 amat ma marketing tp persaingan coke n pepsi bs di jadian case yg unik..n kasih input klu pesaing bukan lawan yg sbenarnya justru yg bukin semangat n lebih kreatif....
Kiki @ Rabu, 17 September 2008 | 01:45 WIB
"Perang" Iklan antara Coke dan Pepsi masih menjadi sesuatu yang sangat unik sampai hari ini, makanya sampai hari ini masih menjadi case study yang selalu dibahas di perkuliahan marketing. Banyak hal yang bisa diambil dari strategi dan cara mereka "berperang", bahkan juga bisa menjadi inspirasi untuk produk lainnya dalam membuat sebuah strategi marketing yang pintar seperti mereka. dan saya pun sangat menikmati peperangan ini :)
Lyori Pradana @ Selasa, 16 September 2008 | 22:26 WIB
Saya pernah membaca "The End of Marketing" Sergio Zyman. saya praktekkan dalam small business yang saya mulai dari awal.. jangan tanya hasilnya..karena sekarang business saya menjadi business yang sukses.
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
299