Bagian 21
Customers Are Not Always Right, but They Are Still Important!
"Hermawan Kartajaya adalah pakar pemasaran dari Indonesia. Sejak tahun 2002, ia menjabat sebagai Presiden World Marketing Association (WMA) dan oleh The Chartered Institute of Marketing yang berkedudukan di Inggris (CIM-UK) ia dinobatkan sebagai salah satu dari "50 Gurus Who Have Shaped The Future of Marketing". Saat ini ia juga menjabat sebagai Presiden MarkPlus, Inc., perusahaan konsultan pemasaran yang dirintisnya sejak tahun 1989. Selain aktif menulis buku-buku seputar dunia bisnis dan pemasaran Indonesia maupun internasional, ia juga kerap diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum di berbagai negara." 
(Email : newwave@kompas.co.id)
Jumat, 19 September 2008 | 00:22 WIB

PERNAH dengar slogan seperti ini?
Rule #1: The customer is always right.

Rule #2: If the customer is wrong, please re-read rule number one!

Itulah slogan yang sangat klasik di kalangan marketers. Slogan ini pun dipakai di mana-mana dan sudah menjadi semacam pelajaran pertama dalam “Customer 101”. Slogan tersebut mulai dipakai di toko-toko ritel sejak awal abad ke-20. Tidak terlalu jelas, siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat tersebut.

Kalau di Amerika, yang pertama kali menggunakannya adalah toko serba ada atau toserba (department store) Marshall Field di Chicago yang didirikan pada akhir abad ke-19. Sementara kalau di Inggris, Harry Gordon Selfridge Sr.-lah yang mempopulerkannya. Ia memakainya untuk toserba Selfridge-nya yang ada di London yang dibuka pada tahun 1909.

bersambung...

---------------------------------------
Bahasan lengkap artikel ini sudah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul "New Wave Marketing, The World Is Still Round, The Market is Already Flat." Anda bisa memesan buku tersebut di GramediaShop.com atau hubungi Direct Selling Gramedia Pustaka Utama (
gpudm@gramedia.com, telepon: 021-53677834 ext. 3252 & 3253).

Hermawan Kartajaya
Share on Facebook
Nilai 4.67 A A A
Ada 14 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
death @ Sabtu, 1 November 2008 | 17:22 WIB
palanggan atau costumer service jg manusia semua sama,kita bisa jd dua-duanya kapanpun juga.GITU AJA KOK REPOT.kalu gini terus kapan indonesia maju??...
Suez @ Kamis, 25 September 2008 | 14:32 WIB
The customer is always right, itu kalau di sono. Di Indonesia pelanggan selalu jadi dikalahkan, mau nggak mau, suka nggak suka ya harus terima layanan apa adanya.
Agus Purwandi @ Selasa, 23 September 2008 | 09:31 WIB
Pak Hermawan, saya pernah dengan istilah pelanggan adalah raja. Raja berkuasa dan important, memang raja ada yang sangat semena2 seperti pelanggan yang mau menang sendiri, tapi raja yang bijak adalah raja yang mengganggap diri tidak selalu benar, persis seperti customer yang bijak dan selalu mencari keuntungan dari kedua belah pihak, dan menurut saya pelanggan akan lebih loyal kalau merasa untung, seperti pelajaran Bapak di Full Price minggu lalu.
endi_t @ Selasa, 23 September 2008 | 01:38 WIB
baca komen2nya si nachtzehrer, cant help but to think ini pasti org iri atau barisan sakit hati. atau mungkin pernah dipecat dr markplus krn attitude :) komen kok stupid semua, kayak anak kecil baru kenal internet, flaming dimana2. Grow up man!
Philip @ Senin, 22 September 2008 | 15:20 WIB
Saya rasa tidak demikian. Pak Hermawan juga mahluk Tuhan yang masih belajar dan terus belajar. Beliau akan lebih senang, kalau observer observernya juga memberikan kritik atau bahkan pemikiran yang berbeda... bukan cuma telan mentah-mentah apa yang beliau katakan. Betul Pak Hermawan?
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
299