NEW YORK, SENIN - Harga minyak mentah melambung tinggi lebih dari 25 dollar AS, pada perdagangan Senin (22/9) waktu setempat, mencatat kenaikan terbesar dalam perdagangan harian di New York, dipicu rencana bailout finansial besar-besaran AS dan penurunan dollar AS.
Minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Oktober, di New York Mercantile Exchange, sempat melambung 25,45 dollar AS ke 130 dollar AS, sebelum ditutup ke 120,92 dollar AS, atau naik 16,37 dollar AS per barrel.
Pada awalnya kontrak berjangka New York telah naik melewati batas 110-dollar AS untuk pertama kalinya sejak 29 Agustus dan diperdagangkan di posisi tertinggi 130,00 dollar AS.
Kenaikan ini 62 persen lebih besar dari rekor kenaikan sebelumny 10,75 dollar AS yang terjadi 6 Juni. "Ini sebuah kenaikan yang tak pernah terjadi sebelumnya," kata Antoine Halff, analis pada Newedge Group.
Sementara di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Desember naik 6,43 dollar AS per barrel menjadi mantap pada 106,04 dollar AS. "Rally juga didorong oleh faktor teknikal terkait berakhirnya kontrak New York pada penutupan perdagangan," kata para analis.
Minyak mentah light sweet untuk November, acuan kontrak berikutnya, naik jauh lebih moderat 6,62 dollar AS menjadi mantap pada 109,37 dolar AS.
Sebelum kontrak Oktober berakhir, "para pelaku pasar dipaksa untuk membayar harga berkelebihan untuk melikuidasi posisi mereka," kata Halff.
Dia mengatakan rally telah dilebih-lebihkan oleh likuiditas pasar yang tipis karena kredit seret global.
Faktor lainnya pemicu kontrak Oktober, yang akan dikirimkan dalam jangka pendek: stok minyak mentah AS turun signifikan setelah produksinya terganggu di Teluk Meksiko oleh Badai Gustav dan Ike, kata Halff. "Pantas dipertimbangkan jumlah produksi di Teluk Meksiko masih ’offline’ setelah Badai Ike," kata Mike Fitzpatrick dari MF Global.
Pada Jumat, harga minyak melompat lebih dari enam dolar AS di New York dan empat dolar AS di London di tengah berita rencana bailout AS atas sektor finansial yang bermasalah.
Menurut para analis, bailout AS sebesar 700 miliar dolar AS, yang memerlukan persetujuan Kongres, telah mengendurkan kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar di dunia itu sedang dibawa menuju kejatuhan.